Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn [2011]


Entah apa yang ada di pikiran para juri Oscar sehingga film animasi pertama besutan Steven Spielberg ini tidak masuk dalam daftar Best Animated Feature Film di tahun 2012 ini. Pemikiran mereka sungguh berbeda jika dibandingkan dengan hasil pengumuman ajang Golden Globe ke-69 yang dilangsungkan pada tanggal 15 Januari 2012 yang berhasil mentasbihkan film yang diangkat dari komik legendaris asal Belgia ini sebagai Best Animated Feature Film yang mengalahkan saingannya sepertiArthur ChristmasCars 2Puss in Boots dan Rango. Untuk menghibur, film animasi CGI ini pun mendapatkan satu nominasi saja, yaitu Best Original Score setelah juri Oscar menilai bahwa sang komposer langganan Spielberg, John Williamspantas untuk dimasukkan dalam daftar tersebut.
Film ini mengalami perjalanan yang sangat panjang sebelum ditampilkan ke layar lebar. Semulanya bermula saat Spielberg kelar menyelesaikan babak pertama dari trilogi petualangan Indiana JonesRaiders of the Lost Ark di tahun 1981. Saat Spielberg membaca ulasan film yang membandingkan film yang baru saja dirampungkannya dengan komik Tintin, dirinya pun penasaran dengan Tintin ini. Untuk mengobati rasa penasarannya, Spielberg pun mendapatkan salinan komik Tintin dalam bahasa Perancis dari sekretarisnya. Tak butuh waktu lama bagi Spielberg untuk jatuh cinta dengan tokoh rekaan komikus asal Belgia bernama Hergé ini. Dengan segera, Spielberg menjadi penggemar kisah petualangan-petualangan Tintin. Karena tertarik, Spielberg pun tertarik untuk memfilmkannya. Hergé yang cukup kecewa dengan versi live action dan film kartun yang telah dibuat sebelumnya ini antusias ketika mengetahui niat Spielberg tersebut. Menurutnya, jika kisah Tintin dikerjakan oleh Spielberg maka hasilnya akan luar biasa. Hergé sendiri merupakan penggemar Spielberg.

Sabtu, 03 Maret 2012

The Artist, Sebuah Kebisuan yang Mempesona



Dalam banyak hal, The Artist adalah sebuah pencapaian prestasi. Sebuah film bisu produksi zaman sekarang yang, saking sempurna penggarapannya, bisa saja dianggap sebagai sebuah film klasik betulan produksi tahun 20-an. Segala teknik yang digunakan dalam produksi The Artist (pencahayaan, pengaturan bayangan, pengaturan warna hitam dan putih) menunjukkan sebuah keseriusan yang didasari pada study mendetail tentang film klasik zaman baheula.

Selain masalah teknis, The Artist mempunyai jiwa sebuah film bisu. Film ini mempunyai momen-momen yang sangat khas dalam sebuah film klasik. Sebut saja kesetiaan dan kerinduan yang divisualisasikan dengan sangat baik. Sutradara Michel Hazanavicius dan para aktornya sukses menyuguhkan gesture yang terarah, murni, tanpa harus terjebak dalam sebuah kekonyolan gerak.
Jean Dujardin, bermain sebagai seorang idola film bisu, tidak hanya melakukan gerakan-gerakan tanpa makna. Dia sanggup masuk ke dalam sebuah kesadaran tentang berakting dalam film klasik tanpa suara. Senyumnya sangat khas dan mempesona, sesuatu yang sudah hilang seiring diproduksinya film yang bersuara (talkies).